“Kamu sedang apa?”
“Bersyukur, untuk malam yang
mempertemukan rinduku padamu. Kalau kamu sedang apa?”
“Masih sama seperti kemarin,
menunggumu untuk dicintai.”
“Apa
kamu yakin siap menunggu?”
“Ya,
Rindu yang mengajariku arti kesabaran. Dan cinta yang membuatku kuat bertahan.”
“Bagaimana
jika aku tak pernah pulang?”
“Kamu
jahat. Sudah membuang rindu sembarangan, dan tak memungutnya kembali. Kamu
tahu, aku sudah cukup lama menjaganya sendirian?”
“Ya.
Aku tahu. Kamu tak perlu khawatir karena aku sedang dalam perjalanan menuju ke
sana. Maukah kamu menyiapkan rindu itu tepat ketika aku sampai nanti?”
“Kapan
kamu tiba? Bagaimana jika kedatangamu serupa angin yang terbang tak pernah
henti. Mungkin kamu tak akan benar-benar kembali.”
“Aku
mungkin tersesat dalam perjalanan. Tapi yakinlah, setiap doa yang kamu
kirimkan, telah menjadi mata angin yang menunjukkan jalan pulang kepadamu.”
“Kamu
tahu isi doaku?”
“Aku
selalu tahu. Di sebelah ruang hatiku, cintamu berdiam. Kudengar kamu menyebut
namaku berkali-kali.”
“Tentu.
Karena aku rindu…”
“Maka
jangan putus asa. Tunggu aku. Kamu satu-satunya yang kucinta…”
Cinta yang Bercakap-Cakap
oleh : Robin Wijaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar